TAYAWI — Sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati di Maluku Utara, Taman Nasional Aketajawe Lolobata (Ajalo) dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan International Bird Race Competition 2026 pertama di Maluku Utara, Senin (27/7/2026).
Kegiatan yang diinisiasi oleh Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata ini diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, sektor swasta, fotografer profesional, hingga peserta mancanegara.
Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara, H. Samsuddin A. Kadir, menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya ajang bergengsi ini dan mengaku bangga karena Taman Nasional Aketajawe menjadi lokasi pelaksanaannya.
Ia melanjutkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar kompetisi, melainkan sebuah gerakan nyata untuk memperkenalkan dan mempromosikan potensi keanekaragaman hayati yang dimiliki Maluku Utara.
Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Budhi Chandra, menjelaskan bahwa Ajalo International Bird Race 2026 menjadi ajang pengamatan sekaligus fotografi burung yang mempertemukan pegiat konservasi, pengamat burung, hingga fotografer alam dari berbagai daerah.
"Kegiatan akan berlangsung pada 27–29 Juli 2026," kata Budhi singkat.
Sebagai informasi, Ajalo International Bird Race membuka dua kategori perlombaan, yaitu Lomba Birding dan Bird Photography. Kategori birding dapat diikuti oleh individu maupun tim yang terdiri atas satu hingga tiga orang, sedangkan kategori fotografi burung diperuntukkan bagi peserta perorangan.
Bird race atau lomba pengamatan burung merupakan sebuah kegiatan yang menggabungkan olahraga alam, penelitian ilmiah sederhana, dan semangat konservasi. Kegiatan ini berkembang di Indonesia bukan hanya sebagai ajang kompetisi, melainkan juga sebagai gerakan untuk memperkuat komunitas pengamat burung di Nusantara dalam upaya meningkatkan kepedulian masyarakat luas terhadap keanekaragaman hayati.
Dalam kegiatan tersebut, Sekprov bersama Tenaga Ahli Kementerian Kehutanan melanjutkan agenda konservasi lingkungan dengan melepasliarkan burung bidadari/kakatua putih (Cacatua alba) dan burung nuri ternate (Lorius garrulus).
Sebelum menutup arahannya, Sekprov menegaskan bahwa melalui ajang ini, seluruh pihak ingin menegaskan bahwa ekowisata berbasis konservasi adalah masa depan pariwisata Indonesia, khususnya Maluku Utara.
"Dengan mengedepankan kelestarian alam, Maluku Utara siap tidak hanya menjaga keberlangsungan ekosistem, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal serta menjadi destinasi unggulan yang dikenal di tingkat nasional maupun panggung internasional," pungkas Samsuddin.
Kegiatan ini menjadi titik awal menyongsong peringatan Hari Konservasi Alam Nasional sekaligus bentuk komitmen Pemerintah Provinsi Maluku Utara dalam menjaga kelestarian sumber daya alam dan keanekaragaman hayati. (Humas/Adpim)
Dokumentasi Kegiatan Klik Di sini